Rabu, 15 Juni 2016

Pemimpin Itu Dilahirkan atau Diadakan ?

Oleh : L.M.F

Jurnal_45 : Tidak bisa dipungkiri bila banyak orang kagum pada Bung Karno, juga terinspirasi Mahatma Gandhi (maha = besar, atma = jiwa, jadi mahatma berarti jiwa yang besar). Orang terpesona oleh John F. Kennedy, kagum pada Hitler, dan salut pada Nelson Mandela.

Tak sedikit pula yang kagum pada kegigihan Martin Luther King, kepintaran Abdurrachman Wahid, kejujuran Nurcholish Madjid, kecerdasan Jalaluddin Rakhmat, semangat Mahathir Mohamad. Mereka semua menyimpan fakultas (kualitas) kepemimpinan.

Dalam kehidupan kita, kita menjumpai pemimpin-pemimpin yang mempunyai kharisma sejak lahir dan mampu memimpin teman-temannya, menanjak dalam karir dan menduduki posisi kepemimpinan yang sangat penting. Dalam hal ini pemimpin tersebut memang benar-benar memiliki kemampuan kepemimpinan sejak lahir.

Ada pula yang menjadi pemimpin setelah usia tertentu. Dalam sejarah, kita juga menemukan pemimpin-pemimpin yang tidak pernah mendapatkan pelatihan kepemimpinan tetapi dapat memimpin suatu bangsa. ada pemimpin yang dilahirkan dan ada juga yang dididik atau dilatih.

Soekarno, Mahatma Gandhi, Jhon F Kennedy, Mandela, King, dan Mahathir adalah pemimpin hebat. Mereka sepertinya lahir untuk menjadi pemimpin. Sepertinya bakat pemimpin telah melekat dalam diri mereka. Sepertinya Tuhan telah memberikan bakat itu sejak mereka dalam belaian orang tuanya. Mereka terlahir sebagai pemimpin.

Masalahnya kini, apakah seorang pemimpin memang semata-mata dilahirkan? Ini pertanyaan besar. Walau pada faktanya, sifat-sifat kepemimpinan tidak bisa dimiliki semua orang. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati anugerah kepemimpinan. Karenanya, bagaimana sesungguhnya asal mula pemimpin?

Dalam konteks individu manusia, Pemimpin itu DILAHIRKAN. Hadist Rasulullah bahwa “setiap diri manusia adalah PEMIMPIN, dan akan dimintakan pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya”. Chris Lowney dalam bukunya Heroic Leadership mengatakan setiap orang adalah pemimpin dan setiap orang memimpin sepanjang waktu dengan caranya masing-masing.

Pada sosok pemimpin yang DILAHIRKAN, karakter kepemimpinan melekat dengan pribadi pemimpin. Karakter itu merupakan talenta unik yang belum tentu dimiliki oleh orang lain. Ia menjadi unik dengan para pemimpin pada jamannya. Sang pemimpin, mungkin, tidak mampu merumuskan secara teoritis-ilmiah tentang gaya kepemimpinannya. Ia hanya mampu mengaplikasikan talenta yang dimilikinya. Lalu para akademisi/ilmuwan merumuskannya dan kemudian menelurkan berbagai teori kepemimpinan yang dipotret dari pemimpin itu sendiri. Teori-teori yang dilahirkan pun dipelajari dan menjadi role model kepemimpinan masa kini.

Dalam Konteks Organisasi, Pemimpin itu DIJADIKAN. Menurut Vince Lombardi Pemimpin tidak dilahirkan tetapi dijadikan. Dan mereka tercipta melalui kerja keras. Itulah harga yang harus kita bayar untuk meraih tujuan berharga. US Navy mendefinisikan pemimpin adalah sosok yang memiliki seni membangkitkan semangat, memandu, dan mengarahkan orang lain sehingga orang tersebut melakukan apa yang dikatakan oleh sang pemimpin.

Pemimpin yang DIJADIKAN karakternya memperkuat prinsip dan ideologis yang kokoh terutama perjuangannya untuk kepentingan yang dipimpinnya. Bukan kepentingan diri, kelompok, dan suporter politisnya. Ia harus mampu menegakan hukum dan menjalankan roda kepemimpinan melalui rel hukum.

John Maxwell menyatakan bahwa “Pemimpin adalah pengaruh.” Pemimpin adalah seseorang yang dapat menjalankan fungsinya sebagai penyemangat, pemandu, pengarah, pencipta kultur berbasis visi dan tata nilai sehingga dapat memberikan pengaruh kepada yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Dalam literatur-literatur kepemimpinan yang lain, ada tiga buah konsep dasar mengenai asal-usul pemimpin. Ketiga teori tersebut adalah teori genetis, sosial, dan sintesis.

Yang pertama, teori genetis. Teori genetis mengatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan. Kepemimpinan mengikuti garis keturunan. Kepemimpinan adalah bakat yang telah ada sejak seseorang dilahirkan.

Kedua: teori sosial. Teori ini mengatakan bahwa pemimpin lebih merupakan bentukan sosial. Pemimpin datang dari lingkungan sosial yang membentuknya. Intinya, menurut teori sosial, pemimpin bukan bakat, melainkan suatu proses penciptaan oleh lingkungan sosialnya.

Namun, kedua teori tadi sangat bersifat deterministik: pemimpin semata-mata hanya ditentukan oleh gen (garis keturunan) atau oleh lingkungan sosial. Pemimpin itu adalah seorang yang dilahirkan (memiliki bakat pemimpin) dan juga telah dipupuk oleh lingkungannya. Pemimpin bukan hanya bakat, tetapi juga harus memperoleh dukungan dari kelompok sosialnya, agar bakat itu bisa tumbuh berkembang. Inilah teori ketiga. Teori ini menggabungkan teori genetis dan teori sosial. Karena itu teori yang ketiga ini dikenal dengan sebutan teori sintesis.

Jujur saja, saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ketiga teori di atas. Walau pada kenyataanya bahwa ada pemimpin itu ada yang dilahirkan. Namun, ada juga pemimpin itu hanya diciptakan oleh lingkungan sosialnya. Saya lebih tidak sependapat dengan teori sintesis yang cuma menggabungkan teori genetis dan sosial.

Bagi saya, jiwa pemimpin adalah kualitas pribadi. Pemimpin itu dapat diolah dan dipoles secara sadar oleh si individu itu sendiri. Jiwa pemimpin, selain terkait dengan bakat, kepemimpinan juga ada hubungan dengan kondisi sosial. Kepemimpinan adalah proses sadar dari sang calon pemimpin untuk suatu saat siap menjadi pemimpin. Artinya, dia mempersiapkan dirinya sendiri untuk siaga menjadi pemimpin di masa depan. Atas dasar itu, siapapun bisa menjadi pemimpin. Minimal pemimpin bagi diri sendiri, keluarga dan organisasi yang digelutinya.

Jadi, pemimpin itu bukanlah hal yang tidak terbatas. Namun, banyak faktor yang dapat menjadi pembatas hingga munculnya sang pemimpin menjadi sangat terbatas. Hakikatnya pemimpin yang DILAHIRKAN dengan pemimpin yang DIJADIKAN tidak sama dan menampilkan dua sisi karakteristik kepemimpinan yang berbeda.

"Disusun dengan beberapa sumber_Jurnal-45"

Oleh : La Ode Muh Fardan

Selasa, 14 Juni 2016

CoretanKu


Mudah-mudahan bisa berguna bagi pembaca dan para mahasiswa baru yang masih idealis. Mari bergerak membangun bangsa!

(Di sisi lain, saya cukup bangga bisa mengutip Buku She Hok Gie dalam tulisan serius, tanpa terkesan lucu).

——– Tulisan dimulai di sini —————-

“Setiap generasi muda akan selalu melampaui pendahulu Kita” – Bungkarno "Nama ini mengingatkan penulis pada keadaan Indonesia sekarang". Setelah hampir 76 tahun merdeka, apakah Indonesia telah melampaui para pendahulunya, yaitu para pejuang dan pahlawan kita yang telah mewariskan kepada kita negara yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman budaya ini? Apakah kita, generasi muda, masyarakat pada umumnya dan mahasiswa khususnya, telah menjalankan peranannya masing-masing dengan baik?

Tulisan ini dibuat terkait dengan mahasiswa yang menjadi “*agent of change*” dari bangsa ini, yang menentukan apa jadinya bangsa ini beberapa dekade kedepan. Pencitraan kekerasan yang dibuat oleh mahasiswa sendiri maupun pemerintah telah mengubah paradigma masyarakat kepada mahasiswa. Mahasiswa yang seharusnya dekat dengan rakyat, yang seharusnya menyuarakan apa yang diinginkan rakyat, telah menjadi jauh dari masyarakat. Mahasiswa yang seharusnya mempertanyakan setiap kebohongan yang ada telah menjadi pelaku kebohongan. Mahasiswa yang merupakan sosok intelek berubah menjadi sosok yang anarkis dan penuh kekerasan.

Kenapa bisa berubah?

Sama seperti kita tidak dapat mencegah siang berganti ke malam, tentunya perubahan, baik yang positif maupun yang negatif, tidak dapat kita hentikan. Perubahan memang diperlukan, namun ada baiknya perubahan itu selalu diawasi dan diarahkan ke arah yang positif.

Indonesia dilahirkan oleh perjuangan mahasiswa yang belajar di negri Belanda. Pada masa itu (sekitar tahun 1940-an) mahasiswa memiliki peranan yang sangat besar dalam perjuangan melawan penjajah. Dari pidato-pidato Bung Karno yang membangkitkan motivasi sampai pendebat-pendebat penjajah di negri asing seperti Perhimpunan Indonesia milik Bung Hatta semuanya melibatkan mahasiswa. Mahasiswa pada saat itu memiliki pernan penting dalam sejarah bangsa kita. Mungkin hal ini yang menyebabkan perkembangan negara Indonesia dari dulu sampai sekarang diidentikkan dengan perkembangan gerakan mahasiswanya. Tetapi zaman telah berubah.

Tak lagi seperti pada zaman penjajahan dimana perkembangan bangsa ini masih berfokus pada perkembangan politis yang membutuhkan banyak pidato-pidato yang baik dan memotivasi rakyat maupun debat-debat dengan negara asing untuk memajukan bangsa, sekarang perkembangan bangsa Indonesia cenderung lebih signifikan dan luas dalam bidang ekonomi / finansial masyarakat luas demi kesejahteraan bangsa. Kalau dulu kita membutuhkan semangat nasionalis dengan bentuk motivasi / gerakan merdeka sekarang sudah berubah jauh. Kita sekarang lebih membutuhkan semangat nasionalisme dalam bentuk kesejahteraan hidup materi dan finansial daripada semangat motivasi seperti mahasiswa pada zaman dulu yang suka berpidato dan berdebat.

Zaman sekarang lebih dibutuhkan mahasiswa yang dapat melakukan sesuatu yang riil dalam menciptakan kesejahteraan, yang tentunya tidak dapat dicapai hanya dengan kata-kata motivasi. Dengan zaman dan keadaan yang berubah, kebanyakan mahasiswa di negara kita tidak mengikuti perkembangan itu, sehingga pastinya pandangan masyarakat kepada mahasiswa menjadi berubah.

Apa yang dapat dilakukan mahasiswa untuk negara?

Menilai dari apa yang telah dilakukan mahasiswa sekarang, tentunya kita tahu, demonstrasi seperti yang dilakukan mahasiswa sekarang tidak menghasilkan apa-apa. Perdebatan-perdebatan maupun diskusi terbuka yang dilakukan oleh kaum intelektual bangsa ini juga hanya membawa dampak yang sangat kecil pada kemajuan bangsa dan negara kita. Yang menjadi pertanyaan, kalau apa yang telah dilakukan sekarang tidak dapat menyelesaikan permasalahan bangsa ini, apa yang dapat mahasiswa lakukan agar bangsa ini dapat terus berkembang?

Kenyataannya, disaat masyarakat mengalami penderitaan karena berbagai marginalisasi yg dilakukan penguasa, kita justru melihat mahasiswa sibuk tawuran antar sesamanya, menjadi pemakai narkoba, menjadi agen hedonisme dan materialisme bahkan menjadi makelar politik penguasa yg korup. Jika demikian pantaskah gelar “maha” itu diletakkan dalam pundak mahasiswa?

Mahasiswa seharusnya mengerti akan tanggung jawab yang dipikulnya sangat berat. Seperti kata pepatah kuno, “*with great power comes great responsibilities*”, mengemban nama “maha” tentunya membuat kita memiliki tanggung jawab yang “maha” juga. Tanggung jawab sebesar apa yang dipikul mahasiswa? Yaitu tanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa ini, tanggung jawab untuk menentukan nasib ratusan juta orang rakyat Indonesia.

Menurut pandangan penulis, setidaknya ada 3 jenis mahasiswa yang ada di Indonesia sekarang, yaitu :

Mahasiswa yang menjadikan demonstrasi hanya sebagai ajang untuk unjuk gigi, agar dirinya dapat dikenal sebagai mahasiswa yang oke, mahasiswa yang ikut-ikutan demonstrasi untuk bolos masuk kuliah. Mahasiswa seperti ini tidak benar-benar memperdulikan rakyat maupun negaranya. Dan mahasiswa seperti inilah yang biasanya melakukan aksi-aksi anarkis maupun terlibat dalam bentrok dengan aparat keamanan pada saat demonstrasi.Mahasiswa yang tidak mempedulikan keadaan politik sekitarnya. Mereka hanya berusaha untuk belajar dengan baik, yang penting datang ke kuliah, mengikuti ujian, dan lulus dengan IP yang bagus. Mereka tidak memperdulikan apakah BBM akan dinaikkan harganya, maupun siapa-siapa saja yang akan berpartisipasi dalam pemilu 2009.Mahasiswa yang benar-benar memperhatikan dan memperdulikan nasib bangsa. Mahasiswa yang memikirkan apa yang dapat dilakukan olehnya untuk bangsa ini. Mereka biasanya menyuarakan keadilan, berdemonstrasi dengan tenang dan mengikuti aturan, mengikuti perdebatan-perdebatan maupun diskusi untuk memajukan bangsa ini.

Celakanya (menurut pengamatan penulis), yang menjadi minoritas adalah mahasiswa golongan ketiga. Penulis sendiri malu menjadi mahasiswa yang termasuk dalam golongan kedua, yang kalaupun perduli, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk bangsa ini.

Melihat mahasiswa saat ini, mahasiswa sudah terdegradasi kemahaannya. Kampus sudah menjadi ajang fashion show dan perkumpulan pemabuk maupun penjudi. Apakah mahasiswa yang seperti ini layak untuk menjadi penerus bangsa kita? Apakah mereka layak menjadi penentu nasib ratusan juta jiwa rakyat Indonesia?

Mahasiswa yang benar-benar memikirkan nasib bangsanya tahu, jawaban dari inflasi dan segala kesulitan ekonomi bukanlah merengek-rengek dan berteriak minta tolong. Jawaban dari tekanan ekonomi ialah peningkatan produktivitas. Produktivitas dimana-mana, baik di kelas, di tempat kerja, maupun di masyarakat. Jadi, jawaban dari segala kesulitan rakyat yang ada bukan dengan hanya sibuk berdemonstrasi.

Bergeraklah. Bekerjalah. Jalankan roda ekonomi negara kita. Buka lapangan kerja, berikan pendidikan yang meningkatkan produktivitas (yang secara langsung maupun tidak akan meningkatkan pendapatan). Belajar keras, karena saingan kita adalah Malaysia, Singapura, RRT, Korea, Filiphina, bahkan negara-negara maju di barat seperti Inggris dan Amerika. Membuka lapangan kerja tidak hanya terbatas pada memiliki modal besar. Lapangan kerja terkadang berasal dari energi, pemikiran, dan usaha. Daripada berdemonstrasi yang seringkali berakhir dengan bentrok atau aksi anarkis kenapa tidak melakukan transfer pengetahuan dari yang sanggup mengenyam pendidikan di perguruan tinggi ke mereka yang tidak sanggup?

Maksimalkan kemampuan yang dimiliki. Sesuaikan apa yang dikerjakan dengan apa yang dipelajari. Mahasiswa Teknik dapat melakukan riset ataupun menciptakan barang-barang yang berguna bagi masyarakat dalam berbagai lapisan. Mahasiswa Ekonomi dapat membuka unit-unit usaha secara struktural maupun mengkaji kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemerintah. Mahasiswa Hukum dengan keahliannya dapat membuat masyarakat menjadi sadar dan taat akan hukum. Indonesia memiliki terlalu banyak potensi yang tidak digali. Beberapa penemuan maupun inovasi yang dilakukan oleh kita telah membuat negara-negara maju berdecak kagum.

Kembalikan pandangan masyarakat ke mahasiswa yang menjadi agent of change,* iron stock, dan *guardian of valueAgent of change tidak memerlukan dukungan dari masyarakat, karena masyarakat kita cukup pintar untuk menilai. Apabila kelihatannya membawa perubahan yang baik, rakyat tentunya akan mendukung dengan sendirinya. Rakyat selalu dekat dengan mereka yang senasib dan sepenanggungan, yang mengerti dan perduli dengan apa yang mereka rasakan. Rakyat tidak perduli apakah yang senasib dan sepenanggungan dengan mereka itu adalah mahasiswa, presiden, atau bahkan tukang beca. Tidak selalu menjadi patokan bahwa mahasiswa itu dekat dengan rakyat. Kalau yang dilakukan hanya berpestapora, menyebabkan kerusuhan, tidak perduli dengan keadaan, senang di atas penderitaan orang lain, baik mahasiswa maupun pejabat tentunya akan menjadi jauh dengan rakyat.

Demonstrasi adalah cara paling mudah dan paling sederhana untuk menunjukkan suatu aksi. Tidak perlu membaca buku yang tebal-tebal, tanpa perlu pusing mengerjakan tugas-tugas kuliah, tidak perlu belajar keras berbulan-bulan hanya untuk mengerti satu mata kuliah, tidak perlu memikirkan berapa IP yang didapat, tanpa perlu memperdulikan apa yang harus dilakukan 10 sampai 20 tahun kedepan, tanpa perlu memikirkan apakah BBM di Indonesia masih cukup untuk rakyatnya 20 sampai 30 tahun ke depan. Yang penting demo, urusan seperti itu dapat dikesampingkan.

Tapi, apakah kita mau dan ingin menjadi mahasiswa yang seperti itu? Apakah kita masih layak menyandang gelar “maha” bila kita berpikri seperti itu? Pantaskah nasib 200 juta orang dipertaruhkan di tangan kita apabila kita masih memiliki pemikiran yang demikian ? Mari kita isi kemerdekaan kita ini dengan hal-hal positif yang dapat memajukan bangsa ini. Kita bangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan disegani di seluruh dunia. Lakukan perubahan terhadap bangsa ini agar kita dapat benar-benar layak menyandang gelar “Maha”.

Oleh : La Ode Muh Fardan

Senin, 13 Juni 2016

Positif dan Optimis dalam Hidup


“Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh, jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah mencoba melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua”. ( Buya Hamka )

Kata-kata ulama besar Alm. Prof. Dr. Hamka diatas demikian menyentuh, mengobarkan semangat kita agar jangan pernah mengeluh apalagi menyerah. Selama hayat masih dikandung badan dan selama nafas belum sampai tenggorokan, selalu tanamkan sikap optimis, berbaik sangka dan berfikir positif !. Belajar bagaimana jadi optimis dapat jadi sesuatu yang sangat sulit, khususnya bagi seseorang yang cenderung memandang segala sesuatu dengan skeptis. Seseorang yang optimis tidak ‘buta kebahagiaan’ atau mengabaikan permasalahan. Tapi sebaliknya melakukan pilihan secara terus menerus untuk merespon dalam tindakan yang membangun baik dalam keadaan positif ataupun negatif. Tapi sebenarnya setiap orang bisa mengembangkan diri untuk selalu berpikir positif. Tentunya dengan niat yang kuat dan bersungguh hati menerapkannya.

1. Perbedaan dari orang yang berpikiran positif dan orang berpikiran negatif adalah bagaimana mereka menghadapi sebuah situasi. Seorang yang pesimis melihat sebuah kejadian buruk sebagai sesuatu yang mempengaruhi seluruh kehidupannya, terlihat dari pernyataan seperti ‘Tak pernah ada hal bagus yang terjadi padaku.’ Atau ‘tentu saja ini akan berakibat buruk…bagaimana jadinya hidupku nanti?’ Saat mengalami kejadian buruk membuat si pesimis semakin yakin kalau mereka korban ketidakberuntungan. Beda dengan seorang yang optimis, biasanya memiliki kemampuan untuk mengisolasi hal-hal negatif dan menjaga sikap serta pemikiran bahwa apa yang dialaminya hanya sebuah kejadian, bagian dari keseluruhan hidupnya.

2. Seorang yang berpikiran optimis melihat kegagalan sebagai kemunduran sesaat, bukan sebuah kondisi yang permanen. Perbedaan dari cara pandang seorang yang berpikiran pesimis. Seorang yang memiliki pemikiran optimis memahami bahwa saat mereka gagal bukan berarti mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk meraihnya, melainkan hanya sebuah pelajaran yang akan membawa mereka mencapai tujuan dengan cara lebih sempurna. Dengan belajar dari kesalahan, ke depannya mereka akan dapat mengurangi kesalahan dalam melakukan sesuatu dan pada akhirnya melakukan cara yang benar.

3. Orang-orang optimis memilih bersikap tenang dalam segala siatuasi buruk yang dihadapinya. Orang-orang optimis memahami bagaimana memisahkan emosi dari situasi yang dihadapinya ini dengan situasi yang sebenarnya, dan mereka memiliki kemampuan untuk tetap bertindak rasional, mengatasi situasi dengan kepala dingin di tengah tekanan.

4. Orang-orang optimis tidak menghadapi permasalahan secara pribadi tapi tetap bersikap obyektif dalam keadaan apa pun.

Jika kita telah memahami bagaimana menjadi seorang yang optimis di atas, dan mempraktekannya dalam keseharian, lalu mengubah kita menjadi seseorang yang berpikir positif. Jangan mengharapkan orang-orang di sekeliling kita langsung menghargai sikap optimis ini, persiapkan diri untuk mengatasi segala hal negatif tersebut. Berfikir positif- positifve thinking juga perlu kewaspadaan. Dalam keseharian kita perlu berfikir positif. Tentu saja tanpa harus kehilangan kewaspadaan !.

Peran Ayah Dalam Kehidupan

Senyummu memancarkan kerinduan..
Sinar matamu memancarkan harapan..
Wajahmu memancarkan kesedihan-kesedihan yang begitu mendalam dan batinmu memikul segala beban yang begitu berat, Namun hatimu tetap tegar menghadapi semua ini.
Sehingga membuatmu kokoh dalam hidup walaupun begitu banyak penderitaan yang selalu datang silih berganti.

Hembusan nafasmu menandakan akan keletihan hidup ini. Namun semangatmu tak pernah pudar untuk menjalani hidup ini.
Segala suka dan duka telah engkau lalui tapi sekilas hanya beban dan penderitaan yang engkau rasakan.
Harapan-harapanmu kini mulai sirna dimakan oleh waktu hingga membuatmu semakin tak berdaya. Namun sekali lagi semangatmu selalu tegar serta kokoh dan membuatmu tetap bertahan dalam menjalaninya.

AYAH... Harapan-harapanmu begitu besar.

AYAH... Beban-beban yang engkau pikul begitu berat.

AYAH... Engkau tau anak-anakmu sekarang banyak menanggung beban, namun hatimu tetap tegar menyikapinya.

AYAH.. Seakan engkau selalu diselimuti awan kelabu yang tiada henti, tapi semangatmu yang begitu besar hingga membuatmu selalu tabah menjalaninya.
Ku hanya bisa menangis dalam hati...
Ku percaya Tuhan akan melindungimu..
Ku percaya suatu saat Tuhan akan mengirimkan angin kesejukan padamu...
amiiin...

Jurnal Seorang Sahabat

Kadang-kadang aku terfikir kenapa diri ini ditakdirkan ada masalah yang besar…
yang kadang-kadang tak dapat ku fikirkan cara penyelesaian…
Namun setelah hari demi hari berlalu, masalah itu pergi mengikut masa…
Maka baru ku sedar masalah itu dapat ku atasi…

Keesokan harinya, masalah lain pula yang menimpa…
Tangisan demi tangisan dicurahkan kepada sahabatku…
Kadang-kadang ku bertanya mengapa ujian ini tidak berakhir…
Namun baru ku sedar, makin banyak masalah, makin dekat aku dengan Illahi Yang Maha Esa…

Hari ini lembaran baru buat diriku,
Seperti bunga yang sedang mekar mengembang di taman,
Burung berkicau-kicauan berzikir di pagi hari,
Hembusan bayu bertemankan bulan di malam hari,
Itulah diari seorang pejuang….

#Oleh La Ode Muh Fardan ||D 4 N Maret||