Kamis, 19 Mei 2016

Air Mata Para Buru

Begitu deras arus

Sungai kehidupan,

Menerjang tak tertahankan 

menggilas habis karat-karat makna

menggugah diri untuk berlari,

Bergerak menuju arena perjuangan,

Terompet waktu memanggil

Tandanya harus berhamba,

Namun badan hanya kelemahan

Hingga tersandar di pojok itu lemas 

kaku,

Menanti rezeki

Dari perut bumi

Untuk sesuap nasi ibu pertiwi

Adakah yang memberi…?

Keras

Ya…memang keras,

Aku bernafas harus berdesakan

Dengan virus yang mengganas,

Merusak sendi tangan dan kaki

Buruh yang keji…

Terjebak jeruji besi

Merengkuh dalam perut bumi…

Suaranya kini tersendat, serak

Seraya mohon belaskasih

Si saudagar anak negeri,

Namun diri kini menyepi

Mengidap sakit kelaliman hati,

Yang tak lagi menyuka cinta ini…

Diam…

Haruskah diam,

Kapan berucap, sampai langit menghujan kasih?

Tidak…aku tetaplah aku,

Tapi langit tak mungkin menjawab,

Namun dia pasti berbuat…


By L.M.F

Tidak ada komentar:

Posting Komentar