Begitu deras arus
Sungai kehidupan,
Menerjang tak tertahankan
menggilas habis karat-karat makna
menggugah diri untuk berlari,
Bergerak menuju arena perjuangan,
Terompet waktu memanggil
Tandanya harus berhamba,
Namun badan hanya kelemahan
Hingga tersandar di pojok itu lemas
kaku,
Menanti rezeki
Dari perut bumi
Untuk sesuap nasi ibu pertiwi
Adakah yang memberi…?
Keras
Ya…memang keras,
Aku bernafas harus berdesakan
Dengan virus yang mengganas,
Merusak sendi tangan dan kaki
Buruh yang keji…
Terjebak jeruji besi
Merengkuh dalam perut bumi…
Suaranya kini tersendat, serak
Seraya mohon belaskasih
Si saudagar anak negeri,
Namun diri kini menyepi
Mengidap sakit kelaliman hati,
Yang tak lagi menyuka cinta ini…
Diam…
Haruskah diam,
Kapan berucap, sampai langit menghujan kasih?
Tidak…aku tetaplah aku,
Tapi langit tak mungkin menjawab,
Namun dia pasti berbuat…
By L.M.F
Tidak ada komentar:
Posting Komentar